PSM Bukan Tim Papan Bawah: Saatnya Evaluasi Besar-Besaran Demi Menyelamatkan Marwah Klub
Oleh PSMFANS1915
Musim ini menjadi salah satu musim paling berat dan menyakitkan bagi perjalanan panjang PSM Makassar di sepak bola Indonesia. Klub yang selama puluhan tahun dikenal sebagai simbol kebanggaan masyarakat Sulawesi justru harus terseok-seok di papan bawah klasemen dan hampir terseret ke jurang degradasi Liga 2. Sebuah situasi yang jujur saja sulit diterima oleh banyak supporter.
Bagi kami, posisi papan bawah bukan tempat yang pantas untuk PSM Makassar. Ancaman degradasi bukan sejarah yang layak ditulis oleh klub sebesar PSM. Klub ini memiliki sejarah panjang, identitas kuat, basis supporter loyal, dan nama besar yang selama ini menjadi simbol harga diri masyarakat Sulawesi Selatan.
Namun sepak bola modern tidak hidup dari sejarah semata. Ketika pengelolaan buruk, keputusan tidak tepat, dan semangat kolektif mulai hilang, maka klub sebesar apa pun bisa jatuh perlahan.
Musim ini menjadi alarm keras bahwa PSM Makassar membutuhkan evaluasi total dan pembenahan besar-besaran apabila ingin kembali kompetitif pada musim depan. Saatnya Evaluasi Besar-Besaran Demi Menyelamatkan Marwah Klub.
Manajemen: Akar Utama Dari Kekacauan Musim Ini
Jika berbicara secara jujur dan objektif, faktor terbesar dari buruknya performa PSM musim ini berasal dari sisi manajemen klub.
Sepanjang musim berjalan, terlihat jelas bahwa manajemen tidak mampu mengelola tim secara proper dan profesional. Banyak keputusan terlihat lambat, tidak tegas, dan terkesan tidak memiliki arah jangka panjang. Di saat kompetisi semakin ketat dan klub-klub lain mulai bertransformasi menjadi lebih modern, PSM justru terlihat berjalan di tempat.
Masalah finansial menjadi salah satu isu yang paling terasa dampaknya. Keterlambatan gaji pemain dan staf bukan hanya sekadar masalah administratif. Hal tersebut secara langsung mempengaruhi mental, motivasi, dan stabilitas ruang ganti tim.
Dalam sepak bola profesional, mustahil meminta pemain tampil maksimal apabila kebutuhan dan hak mereka sendiri tidak terpenuhi secara layak. Sepak bola bukan hanya soal loyalitas, tetapi juga soal profesionalisme.
Selain itu, hilangnya figur sentral seperti Sadikin Aksa yang sebelumnya dikenal lekat dengan klub juga menjadi sorotan besar. Musim ini, wajah utama manajemen terasa pasif dan minim hadir di tengah situasi sulit yang dialami tim.
Di saat supporter terus mengawal klub dalam kondisi apa pun, manajemen justru terlihat jauh dari denyut perjuangan di lapangan.
Padahal supporter sudah berkali-kali menyuarakan kritik dan tuntutan evaluasi melalui berbagai cara. Mulai dari aksi tribun, media sosial, hingga berbagai bentuk protes yang dilakukan secara terbuka. Namun respons yang muncul dari manajemen terasa monoton dan normatif.
Kalimat seperti:
“Terima kasih atas saran dan kritiknya. Mohon maaf, kami akan improve lagi.”
pada akhirnya terdengar hanya sebagai formalitas dan lip service tanpa bukti konkret di lapangan.
Tidak ada langkah nyata yang benar-benar menunjukkan bahwa kritik supporter didengar dan dijadikan bahan evaluasi serius.
Sebagai supporter yang tumbuh bersama kultur Makassar, kami percaya bahwa mengelola PSM bukan sekadar urusan bisnis atau administrasi sepak bola semata. Ada nilai siri’ na pacce yang harus dijaga.
PSM adalah amanah besar. Klub ini bukan milik individu atau kelompok tertentu saja, melainkan simbol harga diri masyarakat Sulawesi.
Ketika amanah itu tidak dijalankan dengan serius, maka wajar jika supporter merasa kecewa.
Pergantian Pelatih dan Hilangnya Identitas Permainan
Musim ini juga menjadi masa transisi yang tidak mudah bagi PSM Makassar setelah mundurnya Bernardo Tavares.
Nama Bernardo akan selalu dikenang karena berhasil membawa PSM Makassar menjadi juara Liga Indonesia pada musim pertamanya. Di bawah kepemimpinannya, PSM memiliki identitas permainan yang jelas: kolektif, disiplin, agresif, dan penuh fighting spirit.
Mundurnya Bernardo jelas meninggalkan lubang besar yang sulit ditutupi.
Masuknya Tomas Trucha sebagai pengganti sempat memberikan harapan baru. Pada awal kedatangannya, performa tim terlihat cukup menjanjikan. PSM bahkan sempat melalui beberapa pertandingan tanpa kekalahan.
Namun seiring berjalannya musim, performa tim mulai menurun drastis.
Strategi yang diterapkan Trucha terlihat monoton dan kurang efektif dalam menghadapi dinamika pertandingan. Permainan PSM menjadi mudah ditebak, minim kreativitas, dan kehilangan karakter kolektif yang selama ini menjadi identitas tim.
Alih-alih berkembang, permainan PSM justru terlihat stagnan.
Beberapa pertandingan penting bahkan memperlihatkan bagaimana tim kehilangan arah ketika menghadapi tekanan. Tidak ada variasi strategi yang jelas dan pergantian pemain sering kali tidak memberikan dampak signifikan.
Situasi semakin memburuk ketika muncul isu konflik internal antara pemain dan pelatih di ruang ganti. Ketika hubungan antara pemain dan pelatih mulai retak, maka kehancuran performa tim hanya tinggal menunggu waktu.
Setelah melewati periode panjang tanpa kemenangan dan ancaman degradasi semakin nyata, akhirnya Trucha diistirahatkan.
Posisi pelatih kemudian diambil alih caretaker sekaligus asisten pelatih Ahmad Amiruddin.
Di tangan Amiruddin, PSM setidaknya kembali memperlihatkan semangat juang yang sempat hilang. Secara permainan, tim terlihat lebih hidup dan lebih berani bertarung.
Walaupun masalah inkonsistensi masih belum benar-benar terselesaikan, setidaknya Amiruddin berhasil membawa angin segar dan menyelamatkan PSM dari ancaman degradasi.
Hal tersebut tentu patut diapresiasi.
Namun tetap harus diakui bahwa penyelamatan di akhir musim bukan solusi utama. PSM membutuhkan fondasi dan arah yang lebih jelas untuk musim depan.
Pemain Kehilangan Konsistensi dan Spirit “Ewako”
Faktor lain yang membuat musim ini berjalan buruk adalah inkonsistensi performa para pemain.
Beberapa pemain yang diharapkan menjadi tulang punggung tim justru gagal tampil stabil sepanjang musim. Dalam banyak pertandingan penting, PSM sering kehilangan fokus dan melakukan blunder-blunder konyol yang berujung fatal.
Yang paling terasa adalah menurunnya performa kapten tim, Yuran Fernandes.
Sebagai pemimpin lini belakang, Yuran musim ini terlihat tidak sekuat musim-musim sebelumnya. Fokus permainan menurun, koordinasi pertahanan sering kacau, dan beberapa kali terlihat kehilangan konsentrasi dalam momentum penting.
Padahal selama ini Yuran dikenal sebagai simbol ketenangan dan karakter kuat di lini belakang PSM.
Bukan hanya soal individu, tetapi secara keseluruhan chemistry tim musim ini terasa hilang.
PSM tidak lagi terlihat bermain sebagai satu kesatuan yang solid. Fighting spirit yang dulu menjadi ciri khas “Pasukan Ramang” perlahan memudar.
Di banyak pertandingan, supporter melihat tim bermain tanpa gairah, tanpa emosi, dan tanpa rasa lapar untuk menang.
Padahal yang membuat supporter selalu bangga terhadap PSM bukan hanya soal hasil akhir, tetapi semangat bertarung tanpa menyerah yang selama ini identik dengan kata:
“Ewako.”
Musim ini, semangat itu terasa hilang.
Kami dari PSMFANS1915 menilai bahwa sebagian pemain sudah tidak menunjukkan mentalitas dan tanggung jawab besar sebagai bagian dari klub sebesar PSM Makassar.
Memakai jersey merah marun bukan sekadar bermain sepak bola.
Ada beban sejarah, harga diri daerah, dan harapan ribuan supporter yang selalu hadir mendukung di mana pun PSM bermain.
Supporter Tetap Berdiri, Meski Klub Sedang Jatuh
Di tengah semua kekacauan musim ini, satu hal yang tidak pernah hilang adalah loyalitas supporter.
Berbagai kelompok supporter PSM Makassar tetap hadir mendukung tim dalam kondisi apa pun. Bahkan ketika performa tim sedang hancur-hancurnya.
Perjalanan menuju Stadion Gelora BJ Habibie di Parepare bukan perjalanan yang mudah.
Jarak yang jauh, biaya perjalanan, waktu, tenaga, dan berbagai kendala lainnya tidak pernah membuat supporter kehilangan gairah untuk mendukung PSM.
Banyak yang rela menempuh perjalanan panjang hanya untuk berdiri selama 90 menit demi satu nama:
PSM Makassar.
Supporter sudah memberikan pengorbanan luar biasa.
Karena itu, sudah seharusnya manajemen, pemain, dan seluruh elemen klub juga menunjukkan rasa tanggung jawab yang sama besarnya.
Klub ini terlalu besar untuk diperlakukan setengah hati.
PSM Harus Bangkit Sebelum Terlambat
Kompetisi musim depan dipastikan akan jauh lebih ketat.
Klub-klub lain mulai memperkuat fondasi mereka, baik dari sisi finansial, manajemen, fasilitas, hingga pembangunan skuad.
Jika PSM tidak segera berbenah, maka ancaman keterpurukan bisa kembali terjadi.
PSM membutuhkan evaluasi total.
Mulai dari pembenahan manajemen, stabilitas finansial, pemilihan pelatih yang tepat, perekrutan pemain yang sesuai kebutuhan tim, hingga membangun kembali identitas permainan yang selama ini hilang.
Selain itu, hubungan antara manajemen dan supporter juga harus diperbaiki.
Supporter bukan musuh klub.
Kritik yang disampaikan selama ini lahir karena rasa cinta dan kepedulian terhadap PSM Makassar.
Kami percaya PSM bisa bangkit kembali.
Klub ini memiliki sejarah besar, identitas kuat, dan supporter yang luar biasa loyal.
Namun kebangkitan itu tidak akan terjadi jika semua pihak terus menutup mata terhadap masalah yang ada.
Penutup
Posisi papan bawah bukan tempat PSM Makassar.
Ancaman degradasi bukan sejarah yang pantas ditulis oleh klub sebesar PSM.
PSM adalah kebanggaan masyarakat Sulawesi dan kami percaya klub ini pantas berada di level kompetitif tertinggi sepak bola Indonesia.
Dengan pengelolaan klub yang sehat, profesional, dan penuh tanggung jawab, ditambah sinergitas antara manajemen, sponsor, pemain, dan supporter, PSM seharusnya mampu kembali menjadi kekuatan besar sepak bola nasional.
Pengorbanan supporter selama musim ini tidak boleh dianggap sepele.
Karena di saat klub sedang terpuruk, supporter tetap berdiri di belakang tim.
Dan untuk itu, kami hanya meminta satu hal:
Manajemen harus serius berbenah.
Bukan sekadar janji.
Bukan sekadar ucapan formalitas.
Tetapi langkah nyata demi menyelamatkan masa depan klub.
Final Statement
“Kami dari PSMFANS1915 menuntut manajemen untuk serius melakukan evaluasi tim dan berbenah dalam menghadapi kompetisi musim depan yang sudah semakin ketat.”




